Tampilkan postingan dengan label ILMU SIDIK JARI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ILMU SIDIK JARI. Tampilkan semua postingan


"Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. "


Pertanyaan buat anda pikirkan !
Apakah yang dimaksud ini HANYA SATU ORANG SAJA ? 
Apakah setiap diri itu Khalifah ?
Bagaimana dengan yang cacat ? Apakah dia bisa menjadi khalifah ?
So....who am i ?

Percayakah Anda jika Setiap diri ini ada di bumi ini ada maksudnya ?
So...apa maksud anda dilahirkan di bumi ini ?
Apakah sudah Anda ketahui ?
Atau justru ini yang menjadi bayang - bayang Anda ..yang membuat diri Anda senantiasa merasa tak trentam dan gelisah ?
So....Who am i ?

Percayakah Anda Bahwa.....
Setiap ciptaan mempunyai talenta alami yang unik di dalam dirinya. Talenta bawaan itu akan menjadi sempurna secara alami. Artinya, bila seseorang menyadari bahwa kekuatan bawaannya yang dimilikinya misalkan talenta seorang orator (communicator) maka dengan berlatih guna memperoleh skill dan mempelajari teknik-teknik berkomunikasi dan berbicara (knowledge) maka dia akan mampu mencapai penampilan puncak yang sempurna (best performance)nya sebagai orator. Maka sebenarnya dalam pemilihan jurusan bagi anak-anak kita, sebaiknya disesuaikan dengan bakat bawaan (talenta innate) yang mereka miliki.


Biasanya siswa yang memilih jurusan sesuai dengan potensi bawaannya, seolah telah mempersiapkan karir yang nanti akan memberinya kepuasan dan kebahagiaan. Sebaliknya mereka yang dipaksa mengikuti jurusan yang sebenarnya tidak seusai dengan potensi bawaannya, sering mengalami kesulitan dalam meniti karir, bahkan stress dalam menjalani jurusan tersebut. Simaklah cerita sekolah kompetensi berikut ini:
Sekolah Mengembangkan Kompetensi
Suatu ketika, para binatang memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berarti guna mengantisipasi masalah-masalah dalam dunia yang baru. Karena itu mereka menyelenggarakan sekolah. Mereka mengadopsi kurikulum kegiatan yang terdiri dari “lari”, “memanjat”, “berenang” dan“terbang.”
Supaya lebih mudah mengaturnya, semua binatang harus melakukan semua kegiatan tersebut. Bebek sangat pintar berenang, bahkan lebih baik dari instrukturnya. Namun, ia hanya pas-pasan dalam aktivitas terbang dan sangat jelek dalam aktivitas lari. Karena larinya sangat jelek, maka bebek harus berhenti berenang dan tetap tinggal di sekolah untuk berlatih lari. Akibatnya, selaput kaki sang bebek luka parah, sehingga berenangnya tidak begitu bagus lagi. Namun bebek mendapat nilai rata-rata, sehingga tak ada lagi yang merasa khawatir, kecuali si bebek sendiri.
Kelinci mula-mula merasa di puncak prestasi dalam latihan lari, tapi otot kakinya menjadi kram karena harus menaikkan nilai renangnya.
Tupai ahli memanjat, tapi ia frustrasi dalam kelas terbang karena sang guru menyuruhnya melayang dari tanah ke atas, bukan dari atas pohon ke bawah seperti yang terampil dilakukannya. Ia mengalami kejang kaki karena latihan yang terlalu keras. Karena itu tupai hanya mendapat nilai C dalam memanjat dan D dalam lari.
Burung rajawali adalah anak yang bermasalah dan harus didisiplinkan keras karena kebanyakan tidak mau mengikuti aturan. Dalam kelas memanjat, ia memang mengalahkan semua binatang untuk mencapai puncak pohon, tetapi ia memaksakan caranya sendiri untuk sampai ke sana.
Cerita di atas mengandung pesan moral yang sangat jelas. Betapa pentingnya bagi orang tua dan pendidik untuk memahami dan menghargai perbedaan bakat dan talenta yang ada di dalam diri setiap anak. Ada banyak orang tua yang memaksakan anak untuk memilih jurusan, yang sebenarnya tidak disukai dan tidak diminati oleh anak. Akibatnya, anak mengalami frustrasi, jengkel pada dirinya sendiri dan orang lain, menjadi suka berontak, tidak puas dengan hidupnya dan merasa tertekan. Anak menjadi acuh-tak acuh pada potensi dirinya, seperti bebek yang telah terluka selaput kakinya — akibat harus berlatih lari — malah gagal menggunakan potensi diri yang telah dimilikinya.
Itulah kisah-kisah yang sering kita dengar sebagai pengalaman beberapa mahasiswa di Perguruan Tinggi (PT). Apa yang terjadi? Ketika si mahasiswa akhirnya harus Drop Out (DO) karena prestasinya tidak memenuhi standar, ketika ditanya, mengapa memilih jurusan ini? Jawabnya adalah karena “disuruh oleh orang tua saya.”
Akibat Salah JurusanHampir bisa dipastikan setiap DO selalu ada kaitannya dengan ketidak sesuaian talenta dan kemampuan anak, seperti bebek yang dipaksa berhenti berenang dan harus berlatihlari. Sebagian memang – dengan ketekunan, motivasi dan usaha keras — akhirnya berhasil menyelesaikan perkuliahan dan program belajar, tapi karena minatnya tidak di situ, maka setelah tamat, mereka bekerja di bidang lain. Artinya persiapan diri selama ini hanyalah sebuah usaha sia-sia. Mereka telah membuang banyak waktu mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang tidak mendukung talentanya. Maka pada bidang karir, pribadi-pribadi ini akhirnya hanya memperoleh kemampuan yang pas-pasan seperti tupai yang hanya memperoleh nilai ‘C’ pada bidang keahliannya dalam memanjat. Soalnya, — perasaan frustrasi, kekecewaan dan perasaan marah yang berkepanjangan — telah menjadi semacam duri penghambat dalam kepribadian mereka.
Bagaimana mengetahu Bakat dan Potensi Anda dan Anak Anda ?
SO.....IQRO ( Bacalah ! ) Dengan menyebut nama Tuhanmu ......
Bacalah jarimu ???
Tanya Kenapa ?

Diposting oleh SUPER HERBALIS Selasa, 12 Juni 2012 0 komentar

Perlukah si Kecil Mengikuti Tes IQ + 

 

Pelatihan?


detail berita 
(Foto: gettyimages)
MOM A: Anakku otak tengahnya diaktivasi. Dia bisa baca buku dengan mata tertutup lohJeung!
Mom B: Wah hebat! Anakku baru aja tes IQ, semoga hasilnya bagus!
Mom C: Aku juga mau ikutan ah, biar anakku hebat seperti anak kalian!

Siapa sih yang tak ingin melihat buah hatinya tumbuh menjadi anak yang pintar disertai ‘segudang’ bakat hebat lainnya. Tak jarang para ibu rajin mengikutsertakan si kecil mengikuti analisis ini itu, tes IQ, dan ragam pelatihan lainnya. Salahkah? Hmmm, tidak juga! Tapi sebelum melakukannya, ikuti dulu ulasan berikut:

Jangan asal ikut tes psikologi!

Any Reputrawati, Psi, Psikolog dari RSJ Prof. DR. Soeroyo, Magelang - Jawa Tengah menyarankan Moms agar tidak sembarang melakukan tes terhadap si kecil.

“Jangan melakukan psikotes hanya karena ikut-ikutan atau tren! Biasanya karena melihat orangtua lain melakukan tes psikologi untuk anaknya, akan bermunculan orangtua lainnya yang ikut melakukan psikotes. Padahal belum tentu anaknya punya masalah psikologis. Kalau ada orangtua datang kepada kami, lalu ingin anaknya dites hanya karena orangtua ingin saja anaknya dites, biasanya kami suruh pulang!,” tegas Any.

Mengapa? Pada dasarnya tes psikologi dilakukan bila orangtua atau guru melihat adanya masalah pada anak. Misalnya anak menunjukkan gejala gangguan cemas di rumah atau saat prestasi belajarnya terus merosot. Masalah ini harus dicari penyebabnya agar kondisi dan perkembangan anak bisa berjalan dengan baik.

Kapan anak boleh ikut tes?Berbeda dengan tes pada orang dewasa yang harus menyelesaikan semua tes psikologi (menggunakan kartu bergambar dan alat tes lainnya), tes pada anak-anak biasanya dilakukan dengan meminta mereka bercerita atau menggambar sesuatu yang sederhana. Cara ini diharapkan bisa memunculkan apa yang menjadi gangguan atau masalah psikologis yang dialami anak.

Mereka juga bisa diajak bermain dengan permainan yang sebenarnya diarahkan untuk menggali apa yang ia rasakan. Usia yang memungkinkan anak mengikuti tes psikologi berkisar 4 atau 5 tahun, ketika anak sudah bisa diajak bicara dua arah. Sementara untuk tes IQ, Any menyarankan agar tak dilakukan pada usia dini.

“Mengukur kecerdasan secara teori, ditentukan banyak faktor. Misal kemampuan bahasa, menghitung, daya ingat, nalar, persepsi ruang, faktor kematangan sosial dan lainnya. Sebaiknya tes IQ dilakukan saat anak sudah mulai sekolah (6 tahun), dimana kemampuan komunikasi dua arah sudah lancar,” jelas Any.

Perlu Moms ketahui, tes psikologi hanya dapat diulang setahun sekali. Kalau dilakukan < 1 tahun, tidak akan bermanfaat sebab selama rentang waktu itu, performa anak tidak mengalami perubahan secara signifikan.

“Skor tes psikologi tidak bisa dimiliki orangtua, score test record hanya dipegang psikolog yang bersangkutan. Yang akan diberikan kepada Moms and Dads hanya kesimpulan dari serangkaian hasil tes secara keseluruhan, berupa uraian, tanpa skor apapun,” imbuh Any.

Saat ini banyak dilakukan tes psikologi untuk anak-anak usia TK yang akan melanjutkan ke sekolah dasar. “Tes ini untuk mengukur kemampuan dan kesiapan anak untuk sekolah. Hasil tes akan menunjukkan apakah anak sudah memiliki kematangan emosional, kemampuan melakukan interaksi sosial, mampu mengenali abjad dan sebagainya. Tes sebaiknya dilakukan paling cepat 6 bulan sebelum masuk SD,” anjurnya.

Analisis sidik jari

Kehadiran tes yang satu ini kerap menuai kontroversi. Bahkan Guru Besar Psikologi UI, Prof. DR. Sarlito Wirawan Sarwono menentang penggunaan metoda analisis sidik jari (http://news.okezone.com/read/2011/05/15/58/457267/sidik-jari).

Menurut Prof. Sarlito, pandangan bahwa kepribadian ditentukan faktor bawaan (nativisme) sudah lama ditinggalkan psikologi. Teori yang berlaku sekarang adalah kepribadian ditentukan oleh pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Untuk memeriksanya diperlukan proses panjang (metoda psikodiagnostik, assessment).

Di sisi lain, Andrian Benny Hidayat, Direktur Psychobiometric Lab RD Talent Spectrum Fingerprint Analysis menanggapi santai pelbagai komentar miring tentang validitas dan komersialisme yang ditujukan untuk metode analisis sidik jari.

“Adalah persoalan klasik, ketika ada metoda baru yang prospektif karena merupakan harapan dan kebutuhan pasar, fingerprint analysis tidak terlepas dari upaya-upaya komersialisasi. Itu wajar, dan tidak perlu dikhawatirkan selama tidak mengandung unsur penipuan, maupun hal-hal lain yang bisa menimbulkan kerugian kelak di kalangan penggunanya,” jelas Andrian.

Ia melanjutkan, “Tuduhan bahwa fingerprint analysis dijual dengan harga sangat tinggi, maka masalah harga terletak pada kondisi market, berkaitan supply and demands.Ditambah faktor teknologi dan aplikasinya yang berkaitan dengan HAKI (Hak atas Kekayaan Intelektual), biaya research dan operasional menjadi bahan pertimbangan itu semua. Perlu diingat, yang dijual adalah produk dan jasanya, bukan pada knowledges-nya. Termasuk tidak beretika, apabila developer fingerprint analysis tidak melakukan transparansi mengenai basic knowledge formulasi dan metoda pengukurannya.”

Manfaat analisis sidik jari

Sidik jari muncul saat janin berusia 13 minggu. Menurut Andrian, kira-kira memasuki usia 4 bulan, tes sidik jari sudah bisa dilakukan. Dari sini dapat diketahui gaya belajar, kemampuan soft skill, tipe eksplorasi anak, serta potensi dan bakat anak. Sedangkan analisis sidik jari bagi Moms, dapat pula terkuak pola gaya asuhnya.

Konon, analisis sidik jari memiliki akurasi yang lebih tinggi ketimbang tes psikologi, angkanya mencapai 87,91 persen, sedangkan tes psikologi hanya 65 persen. 
Menurut Andrian, analisis sidik jari memberikan hasil yang tetap, meski diulang beberapa kali atau sampai individu meninggal.

“Hal ini disebabkan sidik jari bersifat permanen, spesifik, klasifikatif, bahkan jika terluka pun, sidik jari tidak akan mengalami perubahan, baru akan hilang jika terbakar. Berbeda dengan tes psikologi, yang umumnya hasil yang diperoleh dipengaruhi situasi diri yang dialami individu saat melaksanakan tes. Dengan begitu, hasil yang diperoleh bisa berbeda setiap saat,” imbuh Andrian.

Proses analisis sidik jari cukup singkat. Sepuluh jari ditempelkan pada sebuah alat khusus secara bergantian. Setelah itu dalam layar komputer – melalui program khusus - akan muncul lubang-lubang serta guratan sidik jari. Dari sanalah kepribadian anak akan dianalisis, selang beberapa menit hasilnya dapat diketahui. Konon, tes sidik jari bisa pula digunakan untuk membantu proses terapi anak down syndrome. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie)

So...Memperkaya Diagnosa akan Mempersempit Kesalahan Terapi

Diposting oleh SUPER HERBALIS Sabtu, 26 Mei 2012 0 komentar

Subscribe here